Diberdayakan oleh Blogger.

About Me

Foto Saya
Meirokosu Konashijisufusuchiro
Lihat profil lengkapku
Ada kesalahan di dalam gadget ini
RSS

Makalah Kimia Klinik 2 Kreatinin



BAB I
PENDAHULUAN
1.1              Latar Belakang
                                    Kreatinin adalah produk protein otot yang merupakan hasil akhir metabolisme otot yang dilepaskan dari otot dengan kecepatan hampir konstan dan diekskresi dalam urin dengan kecepatan yang sama. Kreatinin diekskresikan oleh ginjal melalui kombinasi filtrasi dan sekresi, konentrasinya relative sama dalam plasma hari ke hari, kadar yang lebih besar dari nilai normal mengisyaratkan adanya gangguan fungsi ginjal. (Corwin J.E, 2001).
                                    Pemeriksaan kreatinin dalam darah merupakan salah satu parameter penting untuk mengetahui fungsi ginjal. Pemeriksaan ini juga sangat membantu kebijakan melakukan terapi pada penderita gangguan fungsi ginjal. Tinggi rendahnya kadar kreatinin dalam darah digunakan sebagai indikator penting dalam menentukan apakah seorang dengan gangguan fungsi ginjal memerlukan tindakan hemodialisis .(http://www.kompas.com).
                                    Kreatinin mempunyai batasan normal yang sempit, nilai di atas batasan ini menunjukkan semakin berkurangnya nilai ginjal secara pasti. Disamping itu terdapat hubungan jelas antara bertambahnya nilai kreatinin dengan derajat kerusakan ginjal, sehingga diketahui pada nilai berapa perlu dilakukan cuci darah. (http://www.kompas.com).
                                    Pemilihan metode yang tepat juga banyak membantu dalam melakukan pemeriksaan. Ada beberapa metode yang digunakan dalam pemeriksaan kreatinin dalam darah. Deproteinasi adalah dengan penambahan TCA (Trichlor Acetic Acid) 1,2 N pada serum sebelum melakukan pengukuran, yang berfungsi mengendapkan protein dan senyawa – senyawa kimia askorbat, aseto asetat, piruvat, sevalosporin dan metildopa, sedangkan cara tanpa deproteinasi adalah tanpa penambahan TCA (Trichlor Acetic Acid) 1,2 N atau disebut juga fixed kinetik, yaitu pengukuran kreatinin dalam suasana alkalis dan konsentrasi di tentukan dengan ketepatan waktu pembacaan. Kedua cara ini mungkin juga akan ditemukan hasil yang tidak sama.

1.2              Rumusan Masalah
            Berdasarkan latar belakang diatas ada beberapa rumusan masalah, diantaranya :
1.      Apa yang dimaksud dengan kreatinin?
2.      Bagaimana metabolisme kreatinin dalam tubuh?
3.      Faktor apa yang mempengaruhi kadar kreatinin?
4.      Faktor apa yang mempengaruhi pemeriksaan kreatinin?
5.      Apa hubungannya ginjal dengan kreatinin?
6.      Bagaimana pemeriksaan untuk kreatinin?
7.      Apa manfaat pemeriksaan kreatinin?

1.3       Tujuan Makalah
Ada beberapa tujuan dalam penyusunan makalah ini, diantaranya    :
1.      Untuk mengetahui kadar kreatinin dalam darah.
2.      Untuk mengetahui pemeriksaan kreatinin dalam darah.

1.4       Manfaat Makalah
Ada beberapa manfaat dalam penyusunan makalah ini, diantaranya :
1.      Sebagai informasi kepada analis kesehatan tentang pemeriksaan kreatinin.
2.      Dapat menambah ketrampilan kerja di Laboratorium Klinik dan memperluas pengetahuan dalam pemeriksaan kimia darah khususnya pemeriksaan kreatinin.











BAB II
PEMBAHASAN

2.1       Kreatinin
Kreatinin adalah produk protein otot yang merupakan hasil akhir metabolisme otot yang dilepaskan dari otot dengan kecepatan hampir konstan dan diekskresi dalam urin dengan kecepatan yang sama. Kreatinin diekskresikan oleh ginjal melalui kombinasi filtrasi dan sekresi, konentrasinya relative sama dalam plasma hari ke hari, kadar yang lebih besar dari nilai normal mengisyaratkan adanya gangguan fungsi ginjal. (Corwin J.E, 2001).
Kadar kreatinin berbeda setiap orang, umumnya pada orang yang berotot kekar memiliki kadar kreatinin yang lebih tinggi daripada yang tidak berotot. Hal ini juga yang memungknkan perbedaan nilai normal kreatinin pada wanita dan laki-laki. Nilai normal kadar kreatinin pada wanita adalah 0,5 – 0,9 mg/dL. Sedangkan pada laki-laki adalah 0,6 – 1,1 mg/dL.
Peningkatan dua kali lipat kadar kreatinin serum mengindikasikan adanya penurunan fungsi ginjal sebesar 50 %, demikian juga peningkatan kadar kreatinin tiga kali lipat mengisyaratkan penurunan fungsi ginjal sebesar 75 %.
 ( Soeparman dkk, 2001 ).

2.2       Metabolisme Kreatinin
Kreatinin terbuat dari zat yang disebut kreatin, yang dibentuk ketika makanan berubah menjadi energi melalui proses yang disebut metabolisme. Sekitar 2% dari kreatin tubuh diubah menjadi kreatinin setiap hari. Kreatinin diangkut melalui aliran darah ke ginjal. Ginjal menyaring sebagian besar kreatinin dan membuangnya dalam urin. Bila ginjal terganggu, kreatinin akan meningkat. Tingkat kreatinin abnormal tinggi kemungkinan terjadi kerusakan atau kegagalan ginjal.



2.3       Faktor Yang Mempengaruhi Kadar Kreatinin     
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi kadar kreatinin dalam darah, diantaranya adalah :
1)       Perubahan massa otot.
2)       Diet kaya daging meningkatkan kadar kreatinin sampai beberapa jam setelah makan.
3)       Aktifitas fisik yang berkebihan dapat meningkatkan kadar kreatinin darah.
4)      Obat obatan seperti sefalosporin, aldacton, aspirin dan co-trimexazole dapat mengganggu sekresi kreatinin sehingga meninggikan kadar kreatinin darah.  
5)      Kenaikan sekresi tubulus dan destruksi kreatinin internal.
6)       Usia dan jenis kelamin pada orang tua kadar kreatinin lebih tinggi daripada orang muda, serta pada laki-laki kadar kreatinin lebih tinggi daripada wanita.( Sukandar E, 1997 ).

2.4       Faktor Yang Mempengaruhi Pemeriksaan Kreatinin
Senyawa - senyawa yang dapat mengganggu pemeriksaan kadar kreatinin darah hingga menyebabkan overestimasi nilai kreatinin sampai 20 % adalah : askorbat, bilirubin, asam urat, aseto asetat, piruvat, sefalosporin , metildopa. Senyawa-senyawa tersebut dapat memberi reaksi terhadap reagen kreatinin dengan membentuk senyawa yang serupa kreatinin sehingga dapat menyebabkan kadar kreatinin tinggi palsu.
Akurasi atau tidaknya hasil pemeriksaan kadar kreatinin darah juga sangat tergantung dari ketepatan perlakuan pada pengambilan sampel, ketepatan reagen, ketepatan waktu dan suhu inkubasi, pencatatan hasil pemeriksaa dan pelaporan hasil.

2.5       Fungsi Ginjal
Ginjal mempunyai berbagai fungsi antara lain :
1)      Pengeluaran zat sisa organik, seperti urea, asam urat, kreatinin dan produk penguraian hemoglobin dan hormon.
2)       Pengaturan konsentrasi ion ion penting antara lain ion natrium, kalium, kalsium, magnesium, sulfat dan fosfat.
3)       Pengaturan keseimbangan asam basa tubuh.
4)      Pengaturan produksi sel darah merah dalam tubuh.
5)      Pengaturan tekanan darah.
6)      Pengendalian terbatas terhadap konsentrasi glukosa darah dan asam amino darah.
7)      Pengeluaran zat beracun dari zat tambahan makanan, obat obatan atau zat kimia asing lain dari tubuh. (Harper, 1997)
2.5.1       Mekanisme Filtrasi Ginjal
Glomerolus adalah bagian kecil dari ginjal yang melalui fungsi sebagai saringan yang setiap menit kira-kira 1 liter darah yang mengandung 500 ml plasma, mengalir melalui semua glomeruli dan sekitar 100 ml ( 10 % ) dan disaring keluar. Plasma yang berisi semua garam, glukosa dan benda halus lainnya disaring dan tetap tinggal dalam aliran darah. ( Guyton CA, 1997)
Cairan yang disaring yaitu filtrasi glomerolus, kemudian mengalir melalui tubula renalis dan sel-selnya menyerap semua bahan yang diperlukan tubuh dan meninggalkan yang tidak diperlukan. Keadaan normal semua glukosa diabsorpsi kembali, kebanyakan produk sisa buangan dikeluarkan melalui urine, diantaranya kreatinin dan ureum. Kreatinin sama sekali tidak direabsorpsi di dalam tubulus, akan tetapi sejumlah kecil kreatinin benar-benar disekresikan ke dalam tubulus oleh tubulus proksimalis sehingga jumlah total kreatinin meningkat kira-kira 20 %. ( Guyton CA, 1997)
Jumlah filtrasi glomerolus yang dibentuk setiap menit pada orang normal rata-rata 125 ml per menit, tetapi dalam berbagai keadaan fungsional ginjal normal dapat berubah dari beberapa mililiter sampai 200 ml per menit, jumlah total filtrat glomerolus yang terbentuk setiap hari rata-rata sekitar 180 liter, atau lebih dari pada dua kali berat badan total, 90 persen filtrat tersebut biasanya direabsorpsi di dalam tubulus, sisanya keluar sebagai urin. ( Evelyn C, 1999).
2.6       Pemeriksaan Kreatinin
2.6.1      Metode Pemeriksaan
Beberapa metode yang sering dipakai untuk pemeriksaan kreatinin darah adalah :
1)      Jaffe reaction
Dasar dari metode ini adalah kreatinin dalam suasana alkalis dengan asam pikrat membentuk senyawa kuning jingga. Menggunakan alat photometer. Metode ini meliputi Kreatinin cara deporteinasi dan Kreatinin tanpa deproteinasi.
2)      Kinetik
Dasar metode ini relatif sama hanya dalam pengukuran dibutuhkan sekali pembacaan. Alat yang digunakan autoanalyzer.
3)      Enzimatik Darah
Dasar metode ini adalah adanya substrat dalam sampel bereaksi dengan enzim membentuk senyawa substrat menggunakan alat photometer.
Dari ketiga metode di atas, yang banyak dipakai adalah “Jaffe Reaction ”, dimana metode ini bisa menggunakan serum atau plasma yang telah dideproteinasi dan tanpa deproteinasi. Kedua cara tersebut mempunyai kelebihan dan kekurangan, salah satunya adalah untuk deproteinasi cukup banyak memakan waktu yaitu sekitar 30 menit, sedangkan tanpa deproteinasi hanya memerlukan waktu yang relatif singkat yaitu antara 2-3 menit.
( Underwood, 1997)

2.6.2        Fisiologi Kreatinin Cara Deproteinasi
Cara ini adalah dengan penambahan TCA (Trichlor Acetic Acid) 1,2 N pada serum sebelum dilakukan pengukuran, setelah diputar dengan kecepatan tinggi antara 5-10 menit maka protein dan senyawa-senyawa lain akan mengendap dan filtratnya digunakan untuk pemeriksaan. Tes linier sampai dengan konsentrasinya 10 mg /dl serum dan 300 mg / dl urin. Cara deproteinasi ini banyak memerlukan sampel dan waktu yang di perlukan lama sekitar 30 menit.( Underwood, 1997).
a)      Faktor Kelemahan Kreatinin Cara Deproteinasi
Ada beberapa faktor kelemahan kreatinin cara deproteinasi :
ü  Trichlor acetic acid ( TCA ) terlalu pekat.
ü  Konsentrasi TCA salah ( apabila menggunakan TCA 3 N, tidak terdapat perubahan warna ).
ü  Waktu inkubasi tidak diperhatikan ( 20 menit ).
ü  Kekeruhan dalam supernatan setelah deproteinasi ( waktu deproteinasi endapan diaduk beberapa kali / sebelum centrifuge didiamkan untuk beberapa menit ).
ü  Sampel yang diperlukan telalu banyak dan waktu terlalu lama. TCA pada suhu kamar mudah terurai maka penyimpanannya di almari es ( ± 2 - 8° C ). (Sylvia, 1994)

b)      Faktor Keuntungan Kreatinin Cara Deproteinasi
Ada beberapa faktor keuntungan kreatinin cara deproteinasi :
Kandungan nitrogen dalam sampel seperti protein, ureum, dll sudah terikat dengan TCA sehingga supernatan terbebas dari bahan-bahan nitogen. (Sylvia, 1994)

2.6.3        Fisiologi Kreatinin Tanpa Cara Deproteinasi
Cara ini adalah fixed time kinetic metoda “ Jaffe Reaction “, yaitu pengukuran kreatinin dalam suasana alkalis dan konsentrasi ditentukan dengan ketepatan waktu pembacaan. Tes linier sampai dengan konsentrasi 13 mg / dl serum dan 500 mg per / dl urin. Cara tanpa deproteinasi ini hanya memerlukan sedikit sampel dan waktu yang diperlukan cukup singkat sekitar 2 menit. ( Underwood, 1997)

1.      Prinsip
Kreatinin akan bereaksi dengan asam pikrat dalam suasana alkali membentuk senyawa kompleks yang berwarna kuning jingga. Intensitas warna yang terbentuk setara dengan kadar kreatinin dalam sampel, yang diukur dengan Fotometer dengan panjang gelombang 490 nm.

2.      Reaksi
Kreatinin + asam pikrat                       Senyawa kompleks
Yang berwarna kuning jingga                         Intensitas warna yang terbentuk setara dengan kadar kreatinin dalam sampel, diukur pada Fototmeter dengan panjang gelombang 490 nm.

3.      Alat & Bahan
a)      Alat yang digunakan   :
ü  Fotometer microlab 300
ü  Clinipette 100 µL dan 1000 µL
ü  Tabung khan
ü  Tip kuning dan biru
ü  Tissue

b)      Bahan yang digunakan            :
ü  Sampel (serum) atau plasma heparin
Urine diencerkan 20 kali (1 + 19), urine dikumpulkan dengan interval 4, 12 atau 24 jam.
ü  Reagen kerja kreatinin (R1 + R2, 1 : 1)
R1  : Disodium Phosphate 6,4 mmol/L
         NaOH 150 mmol/L
R2  : Sodium Dodecyl Sulfate 0,75 mmol/L
         Picric acid 4,0 mmol/L
         pH 4,0
ü  Standart Kreatinin 2 mg/dL
ü  Aquadest


4.      Prosedur Kerja

BLANKO
STANDARD
SAMPEL
AQUADEST
100 µL
-
-
STANDARD
-
100 µL
-
SERUM
-
-
100µL
PEREAKSI
(R1 + R2, 1 : 1)
1000 µL
1000 µL
1000 µL
-          Inkubasi selama 2 menit, baca Absorban Standard (A.St1) dan sampel (A.Sp1) terhadap blanko pada panjang gelombang 490 nm.
-          Tepat 5 menit kemudian baca Absorban Standard (A.St2) dan sampel (A.St2)

5.      Faktor Kelemahan Kreatinin Cara Tanpa Deproteinasi
Adanya gangguan terhadap bilirubin, ureum, protein yang mengakibatkan hasil tinggi palsu. (Sylvia, 1994)

6.      Faktor Keuntungan Kreatinin Cara Tanpa Deproteinasi
Ada beberapa faktor keuntungan kreatinin cara tanpa deproteinasi:
ü   Waktu yang diperlukan cukup singkat ( 2 menit ).
ü   Sampel yang diperlukan hanya sedikit ( 100 ul ). ( Underwood, 1997).

2.7      Manfaat Pemeriksaan Kreatinin
Pemeriksaan kadar kreatinin dalam darah merupakan salah satu parameter yang digunakan untuk menilai fungsi ginjal, karena konsentrasi dalam plasma dan ekskresinya di urin dalam 24 jam relatif konstan. Kadar kreatinin darah yang lebih besar dari normal mengisyaratkan adanya gangguan fungsi ginjal. Nilai kreatinin normal pada metode jaffe reaction adalah laki-laki 0,6 sampai 1,1 mg / dL; wanita 0,5 sampai 1,9 mg / dL. ( Sodeman, 1995 )
Pemeriksaan kreatinin darah dengan kreatinin urin bisa digunakan untuk menilai kemampuan laju filtrasi glomerolus, yaitu dengan melakukan tes kreatinin klirens. Selain itu tinggi rendahnya kadar kreatinin darah juga memberi gambaran tentang berat ringannya gangguan fungsi ginjal. Hemodialisis dilakukan pada gangguan fungsi ginjal yang berat yaitu jika kadar kreatinin lebih dari 7 mg / dl serum. Namun dianjurkan bahwa sebaiknya hemodialisis dilakukan sedini mungkin untuk memghambat progresifitas penyakit.
( Sodeman, 1995 )























BAB III
PENUTUP

3.1       Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan diatas, ada beberapa simpulan diantaranya :
1.      Kreatinin darah adalah hasil akhir dari metabolisme protein otot yang normal di ekskresi ke dalam urin. Nilai normal kadar kreatinin pada wanita adalah 0,5 – 0,9 mg/dL. Sedangkan pada laki-laki adalah 0,6 – 1,1 mg/dL.
2.      Deproteinasi adalah penambahan Trichlor Acetic Acid 1,2 N pada serum (sampel) sebelum dilakukan pengukuran.
3.      Tanpa deproteinasi adalah pemeriksaan kreatinin darah tanpa menggunakan penambahan Trichlor Acetic Acid 1,2 N. TCA (trichlor acetic acid) 1,2 N adalah reagen yang digunakan untuk pemeriksan kreatinin cara deproteinasi.
4.      Metode Jaffe Reaction adalah kreatinin dalam suasana alkalis dengan asam pikrat membentuk senyawa kuning jingga.

3.2       Saran
        Dari penyususnan makalah Kreatinin ini, masih banyak kekurangan yang ada maka penulis mengharap saran dan kritikan dari pembaca (Dosen, dan rekan-rekan) sangat di harapkan untuk penulis dari penyempurnaan makalah berikutnya atau masa yang akan datang.

           

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Poskan Komentar

Senin, 07 Oktober 2013

Makalah Kimia Klinik 2 Kreatinin

Diposkan oleh Meirokosu Konashijisufusuchiro di 10/07/2013 06:11:00 AM


BAB I
PENDAHULUAN
1.1              Latar Belakang
                                    Kreatinin adalah produk protein otot yang merupakan hasil akhir metabolisme otot yang dilepaskan dari otot dengan kecepatan hampir konstan dan diekskresi dalam urin dengan kecepatan yang sama. Kreatinin diekskresikan oleh ginjal melalui kombinasi filtrasi dan sekresi, konentrasinya relative sama dalam plasma hari ke hari, kadar yang lebih besar dari nilai normal mengisyaratkan adanya gangguan fungsi ginjal. (Corwin J.E, 2001).
                                    Pemeriksaan kreatinin dalam darah merupakan salah satu parameter penting untuk mengetahui fungsi ginjal. Pemeriksaan ini juga sangat membantu kebijakan melakukan terapi pada penderita gangguan fungsi ginjal. Tinggi rendahnya kadar kreatinin dalam darah digunakan sebagai indikator penting dalam menentukan apakah seorang dengan gangguan fungsi ginjal memerlukan tindakan hemodialisis .(http://www.kompas.com).
                                    Kreatinin mempunyai batasan normal yang sempit, nilai di atas batasan ini menunjukkan semakin berkurangnya nilai ginjal secara pasti. Disamping itu terdapat hubungan jelas antara bertambahnya nilai kreatinin dengan derajat kerusakan ginjal, sehingga diketahui pada nilai berapa perlu dilakukan cuci darah. (http://www.kompas.com).
                                    Pemilihan metode yang tepat juga banyak membantu dalam melakukan pemeriksaan. Ada beberapa metode yang digunakan dalam pemeriksaan kreatinin dalam darah. Deproteinasi adalah dengan penambahan TCA (Trichlor Acetic Acid) 1,2 N pada serum sebelum melakukan pengukuran, yang berfungsi mengendapkan protein dan senyawa – senyawa kimia askorbat, aseto asetat, piruvat, sevalosporin dan metildopa, sedangkan cara tanpa deproteinasi adalah tanpa penambahan TCA (Trichlor Acetic Acid) 1,2 N atau disebut juga fixed kinetik, yaitu pengukuran kreatinin dalam suasana alkalis dan konsentrasi di tentukan dengan ketepatan waktu pembacaan. Kedua cara ini mungkin juga akan ditemukan hasil yang tidak sama.

1.2              Rumusan Masalah
            Berdasarkan latar belakang diatas ada beberapa rumusan masalah, diantaranya :
1.      Apa yang dimaksud dengan kreatinin?
2.      Bagaimana metabolisme kreatinin dalam tubuh?
3.      Faktor apa yang mempengaruhi kadar kreatinin?
4.      Faktor apa yang mempengaruhi pemeriksaan kreatinin?
5.      Apa hubungannya ginjal dengan kreatinin?
6.      Bagaimana pemeriksaan untuk kreatinin?
7.      Apa manfaat pemeriksaan kreatinin?

1.3       Tujuan Makalah
Ada beberapa tujuan dalam penyusunan makalah ini, diantaranya    :
1.      Untuk mengetahui kadar kreatinin dalam darah.
2.      Untuk mengetahui pemeriksaan kreatinin dalam darah.

1.4       Manfaat Makalah
Ada beberapa manfaat dalam penyusunan makalah ini, diantaranya :
1.      Sebagai informasi kepada analis kesehatan tentang pemeriksaan kreatinin.
2.      Dapat menambah ketrampilan kerja di Laboratorium Klinik dan memperluas pengetahuan dalam pemeriksaan kimia darah khususnya pemeriksaan kreatinin.











BAB II
PEMBAHASAN

2.1       Kreatinin
Kreatinin adalah produk protein otot yang merupakan hasil akhir metabolisme otot yang dilepaskan dari otot dengan kecepatan hampir konstan dan diekskresi dalam urin dengan kecepatan yang sama. Kreatinin diekskresikan oleh ginjal melalui kombinasi filtrasi dan sekresi, konentrasinya relative sama dalam plasma hari ke hari, kadar yang lebih besar dari nilai normal mengisyaratkan adanya gangguan fungsi ginjal. (Corwin J.E, 2001).
Kadar kreatinin berbeda setiap orang, umumnya pada orang yang berotot kekar memiliki kadar kreatinin yang lebih tinggi daripada yang tidak berotot. Hal ini juga yang memungknkan perbedaan nilai normal kreatinin pada wanita dan laki-laki. Nilai normal kadar kreatinin pada wanita adalah 0,5 – 0,9 mg/dL. Sedangkan pada laki-laki adalah 0,6 – 1,1 mg/dL.
Peningkatan dua kali lipat kadar kreatinin serum mengindikasikan adanya penurunan fungsi ginjal sebesar 50 %, demikian juga peningkatan kadar kreatinin tiga kali lipat mengisyaratkan penurunan fungsi ginjal sebesar 75 %.
 ( Soeparman dkk, 2001 ).

2.2       Metabolisme Kreatinin
Kreatinin terbuat dari zat yang disebut kreatin, yang dibentuk ketika makanan berubah menjadi energi melalui proses yang disebut metabolisme. Sekitar 2% dari kreatin tubuh diubah menjadi kreatinin setiap hari. Kreatinin diangkut melalui aliran darah ke ginjal. Ginjal menyaring sebagian besar kreatinin dan membuangnya dalam urin. Bila ginjal terganggu, kreatinin akan meningkat. Tingkat kreatinin abnormal tinggi kemungkinan terjadi kerusakan atau kegagalan ginjal.



2.3       Faktor Yang Mempengaruhi Kadar Kreatinin     
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi kadar kreatinin dalam darah, diantaranya adalah :
1)       Perubahan massa otot.
2)       Diet kaya daging meningkatkan kadar kreatinin sampai beberapa jam setelah makan.
3)       Aktifitas fisik yang berkebihan dapat meningkatkan kadar kreatinin darah.
4)      Obat obatan seperti sefalosporin, aldacton, aspirin dan co-trimexazole dapat mengganggu sekresi kreatinin sehingga meninggikan kadar kreatinin darah.  
5)      Kenaikan sekresi tubulus dan destruksi kreatinin internal.
6)       Usia dan jenis kelamin pada orang tua kadar kreatinin lebih tinggi daripada orang muda, serta pada laki-laki kadar kreatinin lebih tinggi daripada wanita.( Sukandar E, 1997 ).

2.4       Faktor Yang Mempengaruhi Pemeriksaan Kreatinin
Senyawa - senyawa yang dapat mengganggu pemeriksaan kadar kreatinin darah hingga menyebabkan overestimasi nilai kreatinin sampai 20 % adalah : askorbat, bilirubin, asam urat, aseto asetat, piruvat, sefalosporin , metildopa. Senyawa-senyawa tersebut dapat memberi reaksi terhadap reagen kreatinin dengan membentuk senyawa yang serupa kreatinin sehingga dapat menyebabkan kadar kreatinin tinggi palsu.
Akurasi atau tidaknya hasil pemeriksaan kadar kreatinin darah juga sangat tergantung dari ketepatan perlakuan pada pengambilan sampel, ketepatan reagen, ketepatan waktu dan suhu inkubasi, pencatatan hasil pemeriksaa dan pelaporan hasil.

2.5       Fungsi Ginjal
Ginjal mempunyai berbagai fungsi antara lain :
1)      Pengeluaran zat sisa organik, seperti urea, asam urat, kreatinin dan produk penguraian hemoglobin dan hormon.
2)       Pengaturan konsentrasi ion ion penting antara lain ion natrium, kalium, kalsium, magnesium, sulfat dan fosfat.
3)       Pengaturan keseimbangan asam basa tubuh.
4)      Pengaturan produksi sel darah merah dalam tubuh.
5)      Pengaturan tekanan darah.
6)      Pengendalian terbatas terhadap konsentrasi glukosa darah dan asam amino darah.
7)      Pengeluaran zat beracun dari zat tambahan makanan, obat obatan atau zat kimia asing lain dari tubuh. (Harper, 1997)
2.5.1       Mekanisme Filtrasi Ginjal
Glomerolus adalah bagian kecil dari ginjal yang melalui fungsi sebagai saringan yang setiap menit kira-kira 1 liter darah yang mengandung 500 ml plasma, mengalir melalui semua glomeruli dan sekitar 100 ml ( 10 % ) dan disaring keluar. Plasma yang berisi semua garam, glukosa dan benda halus lainnya disaring dan tetap tinggal dalam aliran darah. ( Guyton CA, 1997)
Cairan yang disaring yaitu filtrasi glomerolus, kemudian mengalir melalui tubula renalis dan sel-selnya menyerap semua bahan yang diperlukan tubuh dan meninggalkan yang tidak diperlukan. Keadaan normal semua glukosa diabsorpsi kembali, kebanyakan produk sisa buangan dikeluarkan melalui urine, diantaranya kreatinin dan ureum. Kreatinin sama sekali tidak direabsorpsi di dalam tubulus, akan tetapi sejumlah kecil kreatinin benar-benar disekresikan ke dalam tubulus oleh tubulus proksimalis sehingga jumlah total kreatinin meningkat kira-kira 20 %. ( Guyton CA, 1997)
Jumlah filtrasi glomerolus yang dibentuk setiap menit pada orang normal rata-rata 125 ml per menit, tetapi dalam berbagai keadaan fungsional ginjal normal dapat berubah dari beberapa mililiter sampai 200 ml per menit, jumlah total filtrat glomerolus yang terbentuk setiap hari rata-rata sekitar 180 liter, atau lebih dari pada dua kali berat badan total, 90 persen filtrat tersebut biasanya direabsorpsi di dalam tubulus, sisanya keluar sebagai urin. ( Evelyn C, 1999).
2.6       Pemeriksaan Kreatinin
2.6.1      Metode Pemeriksaan
Beberapa metode yang sering dipakai untuk pemeriksaan kreatinin darah adalah :
1)      Jaffe reaction
Dasar dari metode ini adalah kreatinin dalam suasana alkalis dengan asam pikrat membentuk senyawa kuning jingga. Menggunakan alat photometer. Metode ini meliputi Kreatinin cara deporteinasi dan Kreatinin tanpa deproteinasi.
2)      Kinetik
Dasar metode ini relatif sama hanya dalam pengukuran dibutuhkan sekali pembacaan. Alat yang digunakan autoanalyzer.
3)      Enzimatik Darah
Dasar metode ini adalah adanya substrat dalam sampel bereaksi dengan enzim membentuk senyawa substrat menggunakan alat photometer.
Dari ketiga metode di atas, yang banyak dipakai adalah “Jaffe Reaction ”, dimana metode ini bisa menggunakan serum atau plasma yang telah dideproteinasi dan tanpa deproteinasi. Kedua cara tersebut mempunyai kelebihan dan kekurangan, salah satunya adalah untuk deproteinasi cukup banyak memakan waktu yaitu sekitar 30 menit, sedangkan tanpa deproteinasi hanya memerlukan waktu yang relatif singkat yaitu antara 2-3 menit.
( Underwood, 1997)

2.6.2        Fisiologi Kreatinin Cara Deproteinasi
Cara ini adalah dengan penambahan TCA (Trichlor Acetic Acid) 1,2 N pada serum sebelum dilakukan pengukuran, setelah diputar dengan kecepatan tinggi antara 5-10 menit maka protein dan senyawa-senyawa lain akan mengendap dan filtratnya digunakan untuk pemeriksaan. Tes linier sampai dengan konsentrasinya 10 mg /dl serum dan 300 mg / dl urin. Cara deproteinasi ini banyak memerlukan sampel dan waktu yang di perlukan lama sekitar 30 menit.( Underwood, 1997).
a)      Faktor Kelemahan Kreatinin Cara Deproteinasi
Ada beberapa faktor kelemahan kreatinin cara deproteinasi :
ü  Trichlor acetic acid ( TCA ) terlalu pekat.
ü  Konsentrasi TCA salah ( apabila menggunakan TCA 3 N, tidak terdapat perubahan warna ).
ü  Waktu inkubasi tidak diperhatikan ( 20 menit ).
ü  Kekeruhan dalam supernatan setelah deproteinasi ( waktu deproteinasi endapan diaduk beberapa kali / sebelum centrifuge didiamkan untuk beberapa menit ).
ü  Sampel yang diperlukan telalu banyak dan waktu terlalu lama. TCA pada suhu kamar mudah terurai maka penyimpanannya di almari es ( ± 2 - 8° C ). (Sylvia, 1994)

b)      Faktor Keuntungan Kreatinin Cara Deproteinasi
Ada beberapa faktor keuntungan kreatinin cara deproteinasi :
Kandungan nitrogen dalam sampel seperti protein, ureum, dll sudah terikat dengan TCA sehingga supernatan terbebas dari bahan-bahan nitogen. (Sylvia, 1994)

2.6.3        Fisiologi Kreatinin Tanpa Cara Deproteinasi
Cara ini adalah fixed time kinetic metoda “ Jaffe Reaction “, yaitu pengukuran kreatinin dalam suasana alkalis dan konsentrasi ditentukan dengan ketepatan waktu pembacaan. Tes linier sampai dengan konsentrasi 13 mg / dl serum dan 500 mg per / dl urin. Cara tanpa deproteinasi ini hanya memerlukan sedikit sampel dan waktu yang diperlukan cukup singkat sekitar 2 menit. ( Underwood, 1997)

1.      Prinsip
Kreatinin akan bereaksi dengan asam pikrat dalam suasana alkali membentuk senyawa kompleks yang berwarna kuning jingga. Intensitas warna yang terbentuk setara dengan kadar kreatinin dalam sampel, yang diukur dengan Fotometer dengan panjang gelombang 490 nm.

2.      Reaksi
Kreatinin + asam pikrat                       Senyawa kompleks
Yang berwarna kuning jingga                         Intensitas warna yang terbentuk setara dengan kadar kreatinin dalam sampel, diukur pada Fototmeter dengan panjang gelombang 490 nm.

3.      Alat & Bahan
a)      Alat yang digunakan   :
ü  Fotometer microlab 300
ü  Clinipette 100 µL dan 1000 µL
ü  Tabung khan
ü  Tip kuning dan biru
ü  Tissue

b)      Bahan yang digunakan            :
ü  Sampel (serum) atau plasma heparin
Urine diencerkan 20 kali (1 + 19), urine dikumpulkan dengan interval 4, 12 atau 24 jam.
ü  Reagen kerja kreatinin (R1 + R2, 1 : 1)
R1  : Disodium Phosphate 6,4 mmol/L
         NaOH 150 mmol/L
R2  : Sodium Dodecyl Sulfate 0,75 mmol/L
         Picric acid 4,0 mmol/L
         pH 4,0
ü  Standart Kreatinin 2 mg/dL
ü  Aquadest


4.      Prosedur Kerja

BLANKO
STANDARD
SAMPEL
AQUADEST
100 µL
-
-
STANDARD
-
100 µL
-
SERUM
-
-
100µL
PEREAKSI
(R1 + R2, 1 : 1)
1000 µL
1000 µL
1000 µL
-          Inkubasi selama 2 menit, baca Absorban Standard (A.St1) dan sampel (A.Sp1) terhadap blanko pada panjang gelombang 490 nm.
-          Tepat 5 menit kemudian baca Absorban Standard (A.St2) dan sampel (A.St2)

5.      Faktor Kelemahan Kreatinin Cara Tanpa Deproteinasi
Adanya gangguan terhadap bilirubin, ureum, protein yang mengakibatkan hasil tinggi palsu. (Sylvia, 1994)

6.      Faktor Keuntungan Kreatinin Cara Tanpa Deproteinasi
Ada beberapa faktor keuntungan kreatinin cara tanpa deproteinasi:
ü   Waktu yang diperlukan cukup singkat ( 2 menit ).
ü   Sampel yang diperlukan hanya sedikit ( 100 ul ). ( Underwood, 1997).

2.7      Manfaat Pemeriksaan Kreatinin
Pemeriksaan kadar kreatinin dalam darah merupakan salah satu parameter yang digunakan untuk menilai fungsi ginjal, karena konsentrasi dalam plasma dan ekskresinya di urin dalam 24 jam relatif konstan. Kadar kreatinin darah yang lebih besar dari normal mengisyaratkan adanya gangguan fungsi ginjal. Nilai kreatinin normal pada metode jaffe reaction adalah laki-laki 0,6 sampai 1,1 mg / dL; wanita 0,5 sampai 1,9 mg / dL. ( Sodeman, 1995 )
Pemeriksaan kreatinin darah dengan kreatinin urin bisa digunakan untuk menilai kemampuan laju filtrasi glomerolus, yaitu dengan melakukan tes kreatinin klirens. Selain itu tinggi rendahnya kadar kreatinin darah juga memberi gambaran tentang berat ringannya gangguan fungsi ginjal. Hemodialisis dilakukan pada gangguan fungsi ginjal yang berat yaitu jika kadar kreatinin lebih dari 7 mg / dl serum. Namun dianjurkan bahwa sebaiknya hemodialisis dilakukan sedini mungkin untuk memghambat progresifitas penyakit.
( Sodeman, 1995 )























BAB III
PENUTUP

3.1       Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan diatas, ada beberapa simpulan diantaranya :
1.      Kreatinin darah adalah hasil akhir dari metabolisme protein otot yang normal di ekskresi ke dalam urin. Nilai normal kadar kreatinin pada wanita adalah 0,5 – 0,9 mg/dL. Sedangkan pada laki-laki adalah 0,6 – 1,1 mg/dL.
2.      Deproteinasi adalah penambahan Trichlor Acetic Acid 1,2 N pada serum (sampel) sebelum dilakukan pengukuran.
3.      Tanpa deproteinasi adalah pemeriksaan kreatinin darah tanpa menggunakan penambahan Trichlor Acetic Acid 1,2 N. TCA (trichlor acetic acid) 1,2 N adalah reagen yang digunakan untuk pemeriksan kreatinin cara deproteinasi.
4.      Metode Jaffe Reaction adalah kreatinin dalam suasana alkalis dengan asam pikrat membentuk senyawa kuning jingga.

3.2       Saran
        Dari penyususnan makalah Kreatinin ini, masih banyak kekurangan yang ada maka penulis mengharap saran dan kritikan dari pembaca (Dosen, dan rekan-rekan) sangat di harapkan untuk penulis dari penyempurnaan makalah berikutnya atau masa yang akan datang.

           

0 komentar on "Makalah Kimia Klinik 2 Kreatinin"

Poskan Komentar